Have you hear "Berejung"?what is that ? something like food, or the name of the street or maybe people?I will try to answer your curiosity
Rejung merupakan salah satu sastra lisan dari daerah Serawai. Seni Rejung, sangat terkenal di berbagai kalangan di daerah Serawai. Meskipun banyak orang yang belum tahu apa itu Rejung?Rejung adalah salah satu kesenian yang bentuk dan sifatnya mirip dengan pantun. Perbedaannya terletak pada jumlah barisnya yaitu, terdiri dari sepuluh atau dua belas baris. Yang terdiri dari, lima baris sampiran dan lima baris isi. Atau enam baris sampiran dan enam baris isi bagi Rejung yang terdiri dari dua belas baris.Definisi lain menyebutkan bahwa Rejung merupakan suatu sastra daerah yang berbentuk puisi yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama berupa sampiran dan bagian kedua berupa isi. Jumlah baris yang terdapat pada rejung adalah sepuluh sampai dua belas baris. Jika rejung itu terdiri dari sepuluh baris, maka lima baris pertama adalah sampiran dan lima baris terakhir adalah isi. Begitu juga sebaliknya, jika rejung tersebut terdiri dari dua belas baris, maka enam baris pertama disebut sebagai sampiran dan enam baris terakhir disebut sebagai isi.
Alat musik Alat musik yang dapat dipergunakan antara lain adalah Ramanika (Accordion), Piul (Violin), Gambus, ataupun Gitar Tunggal. Sementara alat musik yang lain seperti Suling (seruling), Seredam , dan Ginggung tidak dapat dipergunakan untuk megiringi tembang atau rejung dikarenakan ketiga alam musik tersebut adalah alat musik (sejenis alat musik tiup). Dari sekian alat musik yang dapat mengiringi tembang hanya gitarlah yang paling menonjol dikarenakan berkemungkinan dalam mempelajarinya tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan alat-alat yang lainnya, akn tetapi rejung dapat pula dimainkan tanpa alat musik.
Rejung pada era kejayaanya (jaman ibung-ibung dulu) biasa dimainkan sebagai hiburan, khususnya untuk kaum muda-mudi, dan sebagai pelengkap dari tari adat.
Misalnya: ketika seorang gadis menari, tiba-tiba suara musik pengiring mulai melemah, maka pada saat itu juga sang gadis mulai melanjutkan tariannya dengan rejung. Rejung yang digunakan yaitu:
Mandi angin
Belarislah kuto Mandi Angin
Kute tegua beghangkai bila
Dayang serikan di berugo
Nyudeka tenun salah ragi
Di beringin
Pesan bereba di beringin
Rawa percang di keruya
Taun mano bulan kebilo
Mangko lawas terbang tinggi.
Setelah sang gadis selesai membawakan rejung di atas, maka sang pemuda membalas dengan membawakan rejung juga. Rejung yang digunakan dapat berupa rejung 30, yaitu:
Muare Kedurang
Daun sesepet muaro Kedurang
Makanan anak burung lelanting
Layu ditimpo mato aghi
Kayu aro tumbu di gunung
Burung terbang ke belitiah
Mano riang
Galung sesaut mano riang
Tinggi sesangi riang kuning
Puting ndak ngenjam parotiwi
Kalu tungkat kayu merujung
Gudung ndak nyingkau aban putiah.
Setelah suara sang pemuda hilang, maka suara musik kembali mengiringi dan tarian dilanjutkan kembali.
c. Rejung berfungsi sebagai ungkapan seseorang dengan maksud tertentu, yang disampaikan secara lisan dan ditujukan kepada orang lain baik itu secara individu maupun secara kelompok.
Dalam hal ini, tidak ada pembatasan umur. Dengan kata lain, fungsi ini berlaku untuk semua orang. Misalnya: ketika seseorang ditunjuk untuk menyampaikan kata sambutan dalam acara pesta pernikahan anaknya. Maka, ketika ia menutup kata sambutannya, ia dapat menggunakan rejung berikut:
Kami ka kayiak
Kali ini kami ka kayiak
Sughang ado nunggu berugo
Selasi kembang di laman
Kembang meniru bungo padi
Kundang ka balik
Ketika kundang ka balik
Mpuak betemu mungkin gi lamo
Tinggalka tinjak di laman
Batan pemabang ati rindu.
Akan tetapi saat ini rejung sudah sangat jarang dimainkan oleh muda-mudi, dengan berkembangnya zaman sekarang jaringan internet telah menyentuh penjuru desa membawa teknologi dengan kesenian modern, sekarang hanyalah mereka yang berjaya di Eranya dulu yang masih bisa memainkan rejung atau ya para Bapak-bapak kitalah, para nining-nining (nenek-nenek). Kita memang harus mengikuti perkembangan zaman tapi tidak seharusnya terbawa arus, betapa banggaya mereka diluar sana yang keseniannya kita agung-agungkan sedangkan kita? kesenian daearah kita perlahan terkikis. Apa yang membuatnya akan hilang itu pula yang bisa membuatnya kuat dan kembali. Jika teknologi pelakunya maka dialah yang harus bertanggung jawab. Ini satu dari banyak cara saya untuk mencintai dan melestarikannya dengan memberi tahu kalian bahwa kesenian ini masih ada, bukan musik tua atau jadul tapi ini warisan yang tak bisa diganti dengan uang.Suku apapun daerah manapun kalian jika atas nama Indonesia maka kita sama. :)
Sekian semoga bermanfaat
^^daunjatuh
Naraumber :
1. Ibu Rini Mawati (asli kedurang Bengkulu Selatan)
2. Bapak Ulian (asli kedurang Bengkulu Selatan)
3. Nenek Siti Halimah (asli kedurang Bengkulu Selatan)
Sumber lain :
http://febijunaidi.blogspot.co.id/2012_12_01_archive.html
Ini video bagi yang mau dengar Rejung
Tidak ada komentar:
Posting Komentar